Selasa, 15 November 2022 11:52

Rospita Napa: Perjuangan Kesetaraan Gender Harus Dimulai dari Keluarga

Sosialiasi kesetaraan gender di Pemkab Tana Toraja.
Sosialiasi kesetaraan gender di Pemkab Tana Toraja.

Isu gender ini pada prinsipnya bukan sekadar mendorong peran perempuan untuk dirinya sendiri.

TATOR, PEDOMANMEDIA – Indonesia masih menghadapi tantangan dalam perjuangan kesetaraan gender. Kesetaraan gender adalah perjuangan bersama yang harus dimulai dari lingkungan keluarga.

“Isu gender masih kerap menyebabkan perempuan masuk dalam kelompok rentan. Kondisi bias gender ini membawa perempuan pada berbagai permasalahan seperti stigmatisasi, marginalisasi, bahkan kekerasan berbasis gender,” ujar Rospita Napa, Kepala Dinas DP3A Tana Toraja saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/11/2022).

Menurut dia, perempuan masih dianggap sebagai kelompok yang lemah. Stigmatisasi inilah yang menghambat perempuan untuk bisa memaksimalkan kemampuan diri mereka.

Baca Juga

Posisi perempuan masih belum setara untuk terlibat dalam penentuan kebijakan pembangunan. Kata Rospita, keterlibatan perempuan dalam ranah publik masih terbatas. Bahkan kerap dianggap sebagai bukan penerima manfaat pembangunan.

“Sehingga tantangan kita sebenarnya adalah membangun kesetaraan gender agar perempuan dan laki-laki dapat terlibat bersama. Ini perlu dilakukan bersama-sama,” beber Rospita.

Ia mengatakan, keluarga adalah kunci pertama dalam membangun kesetaraan. Sebab dari lingkungan terkecil inilah dibangun kebersamaan. Dan rasa saling melengkapi.

“Dalam mencapai kesetaraan gender, tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri. Kita juga harus dapat menanamkan prinsip kesetaraan sedini mungkin, dan itu harus dimulai dari keluarga. Anak laki-laki dan perempuan harus diajarkan nilai-nilai saling menghargai berdasarkan kesetaraan gender. Jika satu sama lain bisa bekerja sama dan mendapatkan hak yang sama, maka potensi perempuan-perempuan di Tana Toraja bisa dioptimalkan dan akan membawa perubahan baik," papar Rospita.

Disebutkan Rospita, isu gender ini pada prinsipnya bukan sekadar mendorong peran perempuan untuk dirinya sendiri. Namun juga untuk keluarga, masyarakat, dan pada akhirnya untuk daerah dan negara.

Lanjut Rospita, meski perjuangan kesetaraan masih belum tercapai, tetap perempuan harus memupuk optimisme. Setidaknya tetap melakukan berbagai kerja nyata untuk memberikan kehidupan yang lebih baik.

"Salah satunya melalui peningkatan kapasitas untuk pemberdayaan. Misalnya dengan memberdayakan potensi yang dimiliki Perempuan," jelasnya.

“Perempuan harus dapat menggali keahliannya, potensinya, keberaniannya serta dedikasinya untuk menjadi bekal untuk meraih cita-cita dan impiannya,” tambah Rospita.

Ia mengemukakan, DP3A senantiasa mengajak semua perempuan, untuk memperkuat jejaring. Meski hanya pada lingkungan terkecil.

Termasuk membangun sinergitas dan kerjasama yang baik, kegiatan ini menghasilkan sebuah komitmen bersama. Terutama dalam menghentikan stigmatisasi dan kekerasan terhadap perempuan.

Penulis: Nober Salamba

Editor : Muh. Syakir
#Isu Gender #Rospita Napa #Pemkab Tator
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer