Muh. Syakir : Sabtu, 15 Oktober 2022 09:56
Muslimin Bando

ENREKANG, PEDOMANMEDIA - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menanggapi kritik yang dilontarkan Bupati Enrekang Muslimin Bando terhadap media yang aktif memberitakan peristiwa bencana alam di Enrekang. PWI menggarisbawahi beberapa poin statemen MB.

Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI, Abd Manaf Rahman mengaku telah mendengar rekaman pernyataan MB. Ia pun memberi beberapa asumsi.

Pertama kata Manaf, apa yang dikatakan Bupati MB merupakan pukulan bagi wartawan bahwa dalam memberitakan sesuatu harus melakukan cek and ricek.

"Cuman bahasanya mengkritik wartawan tapi dia tidak bilang of the record. Jadi di sini rupanya yang bisa menjembatani adalah humas. Di situlah perannya humas, dua kepentingan yang saling berbeda yang harus dipertemukan. Kalau langsung Bupati yang meng-counter karena ada aparatnya yang khusus untuk menangani wartawan," ujar Manaf.

Yang kedua, dia menyoroti statemen MB yang menyebut wartawan mencari panggung. Kata Manaf, wartawan tidak mencari nama atau pun panggung. Wartawan itu memberitakan apa adanya.

"Jadi kita bukan mencari panggung politik. Wartawan adalah penyambung lidah masyarakat. Dan jika kita memberitakan masalah bencana itu terkait dengan anggaran. Kalau wartawan tidak memberitakan mana mungkin pusat mau menurunkan anggaran," jelasnya.

Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Sulsel ini mengatakan keliru jika Bupati mengatakan wartawan selalu memberitakan yang jelek-jelek. Dia mengatakan jangan lihat jelek dan sisi negatif pemberitaan tapi lihat sisi positif dari produk jurnalistik.

"Jadi salah juga kalau seorang pemimpin selalu mengatakan pemberitaan itu negatif. Tugas wartawan itu memberitakan apa adanya dan sesuai dengan kode etik jurnalis," ujarnya.

Manaf juga memberi pesan ke Diskominfo. Dia mengatakan, seharusnya Diskominfo sekali-kali berkumpul melaksanakan workshop jurnalis kebencanaan.

"Karena memang Enrekang rawan bencana jadi susah juga kalau kita tidak memberitakan. Dan wartawan dalam memberitakan tidak harus menunggu perintah nupati". Pungkasnya.

Menurutnya pemberitaan kebencanaan itu dibutuhkan. Agar orang tahu jika di sana ada bencana.

"Semestinya Pemerintah Kabupaten berterima kasih kepada media karena mampu memberitakan. Terus terang itu pemberitaan media itu dampaknya besar bukan hanya sebagai kritik tapi akan memberikan dampak positif terkait bantuan dan sebagainya untuk penanganan bencana" terang Manaf.

Dalam kasus ini Manaf hanya melihat adanya komunikasi yang tidak sinkron. Ada informasi antara keinginan pimpinan daerah dengan keinginan wartawan yang belum terkoneksi baik.

"Di sinilah peran bagian Humas dan Diskominfo sebagai jembatannya" imbuhnya.

Sehari sebelumnya Bupati MB 'marah-marah' ke wartawan karena dinilai terlalu membesar besarkan peristiwa bencana di Enrekang beberapa hari terakhir. MB menyebut wartawan cari panggung.

Ia juga mengatakan, wartawan hanya bermodal berita. Padahal menurut MB, korban bencana tak butuh berita. Tapi butuh uang. Iapun meminta wartawan bawa uang ke lokasi bencana agar bantuannya nyata.