JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Presiden Joko Widodo mengatakan efek pandemi masih akan memukul sektor sektor ekonomi sosial sampai tahun 2021. Ledakan pengangguran dan PHK akan jadi PR paling serius.
"Pengangguran menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. PHK menyebabkan ini menjadi problem yang memaksa kita harus bergerak cepat. Permasalahan ini juga muncul dengan banyaknya angkatan kerja," ujar kepala negara dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2020, Kamis (3/12/2020).
Jokowi berharap semua stakeholder bekerja lebih keras agar Indonesia bisa keluar dari masalah miltiefek ini. Jokowi menyebut pemerintah berkomitmen untuk melakukan reformasi struktural. Sebab masih banyak regulasi yang kompleks dan birokrasi yang rumit.
Ia juga mendorong agar UU Cipta Kerja yang digarap dengan metode Omnibus Law itu bisa menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif dan berdaya saing. Agar ke depan kata dia, UMKM lebih berkembang, dan industri padat tenaga kerja tumbuh dengan pesat.
"Perizinan harus dipermudah, izin usaha UMKM cukup dengan pendaftaran saja dan banyak kemudahan-kemudahan lainnya," tuturnya.
Jokowi berharap BI juga bisa berperan lebih signifikan dalam reformasi fundamental yang dilakukan pemerintah. Berkontribusi lebih besar dalam menggerakkan sektor riil, mendorong penciptaan lapangan kerja baru, dan membantu sektor usaha terutama UMKM.
"Dalam situasi krisis seperti ini kita harus mampu bergerak cepat dan tepat. Buang jauh-jauh ego sektoral, ego sentrisme lembaga, dan jangan membangun tembok tinggi-tinggi berlindung di balik otoritas masing-masing. Kita harus berbagai beban, berbagi tanggung jawab untuk urusan bangsa dan negara ini agar negara kita mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat regional dan global," tutupnya.
BERITA TERKAIT
-
Jokowi Tepis Isu Matahari Kembar: Mataharinya Hanya Satu Prabowo Subianto
-
Sudah 18 Ribu Orang Kena PHK, Sulsel Peringkat 7 Terbanyak
-
Pengusaha Sulsel Sebut Kenaikan UMP 6,5% Bisa Berimbas PHK
-
Jokowi Terima 10 Nama Capim dan Cadewas KPK 2024-2029
-
Di Hadapan Paus Fransiskus, Jokowi: Perbedaan adalah Anugerah, Toleransi Pupuk Persatuan dan Perdamaian