Muh. Syakir : Selasa, 27 September 2022 09:39
Ilustrasi (int)

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Krisis yang menghantam Inggris kian mengkhawatirkan. Jutaan warga kini mengalami kekurangan pangan dan ketidakmampuan membayar tagihan.

Indonesia diminta berkaca dari kondisi ini. Pengamat menilai, apa yang dialami Inggris hari ini adalah ancaman bagi Eropa dan Asia di masa datang.

Karena itu Indonesia harus bisa berbenah. Indonesia mesti belajar dari situasi buruk ini.

"Inggris adalah contoh negara yang gagal menangani krisis. Mereka tidak mampu mengelola ekonomi di tengah krisis. Akhirnya mengalami kejatuhan di semua sektor," ujar ekonom Sjamsul Ridjal, Selasa (27/9/2022).

Menurut Sjamsul, 2023 dunia akan menghadapi ancaman krisis pangan akibat inflasi global. Ia memperkirakan akan banyak negara yang jatuh dalam resesi dan mengalami kebangkrutan.

"Karena itu Indonesia harus punya imunitas ekonomi yang kuat. Kita termasuk rentan karena punya angka utang luar negeri yang sangat tinggi. Untungnya kita punya komoditas pangan yang cukup banyak," jelasnya.

Tetapi pangan dalam jumlah besar tak bisa memberi jaminan. Pemerintah harus punya solusi dalam mengelola pangan di masa masa krisis.

"Utang RI sudah Rp7.000 triliun. Di masa krisis ini bisa rentan. Harga harga juga harus bisa dikendalikan untuk menjaga daya beli," ucapnya.

Di Inggris, dilaporkan jutaan warga rela tidak makan demi bisa membayar tagihan listrik yang melonjak tinggi. Laporan Money Advice Trust memuat bahwa sekitar 20% orang dewasa Inggris atau 10,9 juta orang menunggak tagihan listrik, naik 3 juta atau sekitar 45% sejak Maret 2022.

Tak hanya sampai di situ, terdapat 5,6 juta warga rela tidak makan dalam tiga bulan terakhir sebagai akibat dari krisis biaya hidup. Jajak pendapat dilakukan ke 2.000 orang dewasa Inggris di Agustus 2022.

"Ini termasuk melewatkan makan sekali sehari atau tidak makan sama sekali pada beberapa hari," tulis laporan tersebut dikutip dari The Guardian, Senin (26/9/2022).

Terbaru Kepala Sekolah di seluruh Inggris melaporkan anak-anak kelaparan sampai mengunyah penghapus karet di tengah krisis biaya hidup. Tidak sedikit dari mereka memilih ke taman bermain saat jam makan siang karena tidak mampu membeli makan.

Banyak sekolah di Inggris sudah melihat tingkatan kasus memilukan pada anak-anak yang kelaparan. Satu sekolah di Lewisham, London Tenggara, memberi tahu ada anak yang berpura-pura makan dari kotak makan kosong karena tidak ingin teman-temannya tahu bahwa tidak ada makanan di rumahnya.

"Kami mendengar tentang anak-anak yang sangat lapar sehingga mereka makan karet (penghapus) di sekolah. Anak-anak datang belum makan apa pun sejak makan siang sehari sebelumnya. Pemerintah harus melakukan sesuatu," kata Kepala Eksekutif Chefs in Schools, Naomi Duncan.

Di Inggris, murid berhak atas makanan gratis dari sekolah bagi yang orang tuanya berpenghasilan kurang dari 7.400 pound sterling atau Rp 120,78 juta (kurs Rp 16.322) per tahun. Menurut organisasi amal Child Poverty Action Group, masih ada 800.000 anak miskin yang tidak masuk daftar tersebut.

Sebuah kelompok masyarakat yang mengirimkan paket makanan darurat, Oxford Mutual Aid mengaku harus memangkas hari pengirimannya karena ratusan sukarelawan tidak dapat mengatasi peningkatan permintaan bantuan.

"Kami berjuang untuk memenuhi permintaan. Setiap hari saya mendengar tingkat kesusahan yang dialami orang-orang. Setiap hari saya berbicara dengan keluarga yang ketakutan karena tidak tahu harus ke mana," ujar Koordinator Muireann Meehan Speed.