Tsunami Raksasa di Selatan Jawa Masih Misteri, Peneliti: Tak Ada yang Tahu Kapan Terjadi
Tidak adanya teori yang bisa menjawab kapan gempa dan tsunami itu akan terjadi. Yang paling penting saat ini adalah kesiapan menghadapi kemungkinan itu.
JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Para peneliti mengakui gempa megahtrust dan tsunami raksasa di selatan Jawa masih berupa misteri. Kapan bencana besar itu akan terjadi, tak ada yang bisa memprediksi.
Dalam rapat bersama dengan Menristek Bambang Brojonegoro, Rabu (30/9/2020) para meneliti menyebut belum ada sejarah kapan terakhir kali laut Jawa diguncang gempa. Antara tahun 1600-1700 juga tidak didapatkan jejak itu.
"Jadi semua masih misteri. Tidak ada yang bisa memprediksi kapam terjadi. Karena kita juga tidak mendapatkan sejarah 160 tahun ke belakang pernah terjadi gempa megahtrust," terang Peneliti Geoteknologi LIPI, Danny H Nata Widjaja.
Ia mengatakan, harus bisa dipastikan dulu sejarah kapan pernah terjadi gempa besar dan tsunami di selatan Jawa. Karena ini penting untuk menjawab dalam siklus berapa tahun lagi bencana itu memungkinkan terulang.
Danny menyebutkan di papernya Ron Harris itu dibilang paling tidak selama 160 tahun ke belakang belum pernah ada gempa dan tsunami besar di Selatan Jawa. Bahkan kata dia di sejarah sampai 1700-1600 tidak tercatat.
Menristek Bambang Brojonegoro membenarkan tidak adanya teori yang bisa menjawab kapan gempa dan tsunami itu akan terjadi. Yang paling penting saat ini adalah kesiapan menghadapi kemungkinan itu.
"Bagaimana meredam dampak dari bencana itu. Karena kesiapan mitigasi harus dilakukan secara akurat," jelasnya.
Meski tak ada teori yang bisa memprediksinya, Bambang berharap masyarakat tetap tidak meremehkannya. Soal teori siklus tsunami yang akan datang sekali dalam 300 tahun tidak boleh menjadi acuan.
"Karena itu akan membuat kita meremehkan bencana. Kita bisa mengarah pada negligence. Itu bisa fatal dan menimbulkan korban lebih besar," katanya.
dan negligence ini yang bisa fatal menyebabkan terjadinya bencana dengan korban yang besar, dan ini tak boleh diulang," paparnya.
Peneliti ITB Sri Widiyantoro juga mengakui tak ada prediksi yang benar benar akurat soal waktu. Sebab menurut dia, definisi prediksi gempa harus dilakukan secara rinci mulai dari titik koordinat, posisinya di mana, sampai kedalaman berapa, termasuk waktu terjadinya.
Menurutnya, kalau magnitudonya 9 tapi kedalamannya 600 kilometer, tidak akan memberi efek di permukaan. Jadi menurut Sri, soal kapan, di mana dan sebesar apa tsunaminya sebenarnya tidak sampai ke sana predikainya.
"Untuk sampai pada prediksi itu sangat ketat. Ada banyak teori. Tapi sekali lagi tak ada yang bisa memprediksi waktu dan kekuatannya," imbuh dia.
